Awalnya Cuma Main Biasa
Setiap minggu, aku dan teman-teman cuma main di lapangan sewaan dekat rumah. Nggak ada pelatih, nggak ada strategi mewah. Cuma sepatu, bola, dan semangat. Tapi entah gimana, ada satu hari yang beda.
“Kita daftar turnamen yuk,” kata salah satu temanku.
Awalnya kami ketawa. Tapi lama-lama, ide itu serius.
Hari-H: Deg-degan Setengah Mati
Turnamen lokal, tapi suasananya seperti pertandingan profesional. Lawan-lawan kami datang dengan jersey seragam, pelatih, dan bahkan yel-yel. Kami? Datang naik motor, jersey beda-beda, tapi semangat 100%.
Begitu peluit pertama dibunyikan, jantung rasanya mau copot. Tapi setelah bola menyentuh kakiku… semua rasa gugup hilang.
Aku ingat jelas gol pertamaku — bukan gol cantik, tapi gol semangat. Dari situ, semua berubah.
Kami Mungkin Underdog, Tapi...
Kami tahu kami bukan unggulan. Tapi setiap pertandingan, kami kasih yang terbaik. Sliding tackle, passing cepat, teriakan penyemangat semuanya dari hati.
Sampai semifinal, kami melaju. Dan meski akhirnya kalah adu penalti, itu hari yang nggak akan pernah aku tukar dengan apapun.
Yang Aku Dapat? Lebih dari Sekadar Piala
Dari turnamen itu aku belajar:
-
Gimana kerja sama tim bukan cuma soal teknik, tapi juga saling percaya
-
Gimana tekanan bisa bikin kita tumbuh
-
Gimana kekalahan bisa terasa indah kalau kita sudah main sepenuh jiwa
Turnamen Boleh Selesai, Tapi Semangat Terus Main
Sekarang, setiap kali aku masuk lapangan, aku bawa cerita itu. Cerita tentang keberanian untuk coba. Tentang tim kecil yang punya mimpi besar.
Dan kamu yang baca ini mungkin kamu juga punya tim. Mungkin kamu ragu buat daftar turnamen. Tapi percayalah: mainlah, bukan untuk menang, tapi untuk tumbuh.
mantapp
BalasHapusterharuuu...😢😢😢
BalasHapus